Jangan Sepelekan Orang Berdosa

Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

Kemaksiatan yang menimbulkan rasa rendah hati dan harapan (akan
rahmat dan kasih sayang Allah) lebih baik daripada taat yang
membangkitkan rasa mulia diri dan keangkuhan. (Ibnu Atha’ilah).

Pada masa lampau, ada seorang ‘abid (ahli ibadah) dari kalangan Bani
Israil. Tak berlalu sedikit pun kecuali ia isi dengan taqarrub kepada
Allah. Karena kesalehannya, Allah SWT selalu melindunginya. Ke mana
pun ia pergi, awan-awan akan bergerak melindungi dari sengatan sinar
matahari, sehingga badannya tidak kepanasan.

Suatu hari, Allah SWT mempertemukan ahli ibadah ini dengan seorang
wanita pelacur. Saat melihat sang ‘abid, timbul dalam hati pelacur
ini keinginan untuk bertobat. Ia mendekati ‘abid ini dengan harapan
agar ia sudi memintakan ampun kepada Allah. Namun apa yang terjadi?
Saat pelacur itu mendekat, timbullah rasa jijik dalam hati
sang ‘abid. Dengan kata-kata menyakitkan, ia mengusir pelacur
tersebut untuk menjauh darinya. Ia merasa dirinya suci dan takut
kesuciannya ternoda oleh seorang pelacur rendahan.

Rasulullah SAW menceritakan akhir kisah ini bahwa Allah mengampuni
seluruh dosa pelacur itu dan mencabut keistimewaan sang ‘abid serta
membatalkan smeua amal yang pernah dilakukannya. Allah pun
menghinakannya. Sampai-sampai seorang laki-laki berani menginjak
tengkuk ahli ibadah ini saat ia tengah bersujud di tempat tafakurnya.

Ibnu Atha’ilah dalam kitab Hikam mengomentari kisah ini,
Sesungguhnya, kemaksiatan yang menimbulkan rasa rendah hati dan
harapan (akan rahmat dan kasih sayang Allah) lebih baik daripada taat
yang membangkitkan rasa mulia diri dan keangkuhan.

Saudaraku, tidak ada manusia sempurna di dunia ini, selain Rasulullah
SAW. Semulia dan setinggi apa pun derajat seseorang, pasti ia pernah
melakukan dosa dan kesalahan. Karena itu, tidak pantas bagi kita
menghina dan merendahkan orang karena kesalahan dan dosa-dosa yang
pernah dilakukannya. Ketahuilah, saat kita menghina dan merendahkan
mereka, sebenarnya saat itu pula kita telah merendahkan dan
menginakan diri kita sendiri. Kecuali terhadap orang-orang yang
memang telah direndahkan Allah.

Hakikatnya, selain dengan amal ibadah, Allah pun bisa mengangkat
derajat seseorang karena dosa-dosanya. Bagaimana mungkin? Saat
seseorang berdosa dan menyesali dosa-dosa yang dilakukannya, kemudian
terus-menerus meminta ampun kepada Allah, ia pun gigih menjauhi dosa,
serta berusaha menebus dosa-dosa tersebut dengan kebaikan, maka
yakinlah, saat itu pula Allah SWT akan mengangkat derajatnya.
Difirmankan, Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah
dengan tobat yang sebenar-benarnya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan
menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (QS At Tahriim [66]: 8).

Saudaraku, jangan pernah menghina dan merendahkan orang lain karena
kekurangannya. Apalagi kalau sampai membeberkannya sehingga diketahui
umum. Kita dianggap baik oleh orang, hakikatnya karena Allah masih
menutupi aib-aib kita. Jangan sampai anugerah Allah ini kita
khianati. Menurut Rasulullah SAW, saat kita gemar membuka aib orang
lain, maka Allah pun akan membukakan aib dan kekurangan kita kepada
orang lain. Na’uzubillah! Maka Jadikan diri kita sebagai kuburan bagi
aib orang lain. Saat mendengar aib saudara kita, segera kubur dan
jangan pernah kita buka, kecuali yang dibenarkan agama.

Bagaimana caranya agar kita bisa bersikap proporsional melihat diri
dan orang lain, sehingga tidak terjebak ke dalam sikap merendahkan
orang dan menganggap mulia diri? Rumus 2B2L tampaknya bisa menjadi
solusi. Apakah itu? Berani mengakui jasa dan kelebihan orang lain.
Bijak terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain. Lihat kekurangan
diri sendiri. Serta lupakan jasa dan kebaikan diri. Wallaahu a’lam.

Sumber : http://republika.co.id

One Response to “Jangan Sepelekan Orang Berdosa”

  1. IAIC Says:

    jadi inget ada sobat yg pernah cerita tentang bagaimana wajah negri kita dari sudut pandang kriminalitas.. cukup menarik, dengan meneliti kondisi statistik di LP jadi bisa tau sekilas gambaran kriminalitas apa ajha yg paling tinggi di sana, mereka jadi napi karena 2 hal penting: melanggar hukum dan miskin (kalo kaya bisa nyewa lawyer jago dan bisa ngabur soalnya..), dan lain sebagainya..
    kemudian satu hal lagi yg cukup menarik bahwa karna negri kita mayoriutas muslim maka di LP LP itu kebanyakan mayoritas penghuninya juga muslim.. akan tetapi program-program yg membantu rehabiliti scr religius dari pihak luar sangat sedikit.. itu pun yg melakukan bukan dari saudara saudara kita yg muslim.. justru yg membantu mereka adalah misionaris yg notabene penghuni LP yg beragama sama dengan mereka sangat sedikit dibandingkan yg muslim..
    selama ini yg ada cuman kayak kegiatan buka puasa bareng di bulan romadhon, itu pun cuman sesekali… kapan kita akan mengulurkan tangan untuk mereka, mengadakan dauroh disana atau kegiatan dalam bentuk yg laen lah?

    yang jelas akan lebih bagus lagi kalo kegiatan seperti itu dapat dikoordinasi dan dimenej dengan bagus..
    z

Leave a Reply