Menuju Umat Bersatu
Penulis : KH Abdullah Gymnastiar
Segala sesuatu itu ibda’ binafsih, dimulai dari diri kita. Kalau kita
hanya sibuk menuntut, maka itulah yang membuat kita tidak bisa
berbuat banyak.
Nikmat bisa merasakan hidup bersama dengan sesama manusia itu indah.
Karena ternyata banyak orang yang hidup dengan manusia bukannya indah
tapi malah nestapa. Tentu bukan salah orang lain semata, tapi yang
paling penting kita mulai berpikir mengapa kok bergaul dengan orang
lain tidak seindah semestinya.
Guru kami, KH Khoer Affandi, pimpinan Pesantren Manonjaya, pernah
bersyair, "Anu potong jang-jang jangkrik. Anu semplak suku jangkrik,
anu ngajerit suku jangkrik, anu paeh jangkrik, anu surak nu
ngadukennana. (Yang patah umat Islam, yang remuk umat Islam, yang
sakit umat Islam, yang bersorak yang mengadukannya)".
Sama halnya dengan bangsa kita, sebagai negara yang umat Islamnya
terbanyak di dunia, alamnya kaya, luas, maka kalau kita maju pasti
ada orang yang tidak suka bagi yang hatinya kotor. Sebetulnya kita
sengsara bukan karena hebatnya orang lain. Mereka memperlakukan kita,
karena kita sendiri lemah. Maka dari pada sibuk memikirkan orang lain
yang zhalim, lebih baik kita pikirkan bagaimana menjadi komponen yang
bersatu. Beberapa kiat berikut mudah-mudahan dapat menjadi bahan
renungan dalam mempersatukan umat.
Pertama, latihan berbeda pendapat. Kita lihat sebuah masjid yang
begitu indah, kokoh dan megah. Penyebab pertama adalah karena bahan
yang digunakan berbeda-beda. Ada semen, ada batu, bata, pasir, air,
dan ada beton. Sayangnya, umat Islam belum terbiasa dengan beda-beda.
Kita kalau berbeda pendapat itu dianggap musuh. Sahabatku, kita butuh
pendapat yang berbeda supaya wawasan kita bertambah, serta bisa
mengukur pendapat kita benar atau tidaknya. Kita pun butuh pendapat
yang berbeda supaya kita makin kokoh dan makin kuat.
Wajar ketika anak berbeda pendapat dengan orang tua. Yang harus kita
perhatikan adalah etikanya. Tidak mungkin orang tua sama dengan anak
karena ukurannya beda. Sehingga orangtua harus siap berbeda pendapat
dengan anak. Yang penting tujuannya sama. Kita jangan sampai
terjebak. Berbeda pendapat bukan tanda permusuhan. Beda pendapat
adalah wahana saling melengkapi.
Kedua, jangan suka menonjolkan diri. Wa’tashimu bihablillahi jami’a
wala tafarraqu, untuk diakui jasa itu tidak usaha selalu kelihatan.
Terkadang, kita ingin terlihat paling menonjol, paling hebat, dan
paling penting. Kalau kita saling menonjolkan diri maka tidak akan
bisa bersatu. Kita harus siap menerima kenyataan bahwa Islam itu
begitu hebat dan begitu dahsyat. Diciptakan oleh Allah dari Nabi Adam
sampai kiamat nanti, disempurnakan oleh risalah Rasulullah SAW. Itu
mencakup peradaban dari zaman dulu, modern, hingga postmodern. Mana
mungkin muat dalam kepala kita yang baru belajar Islam kemarin sore?
Maka, belajarlah untuk tidak harus menonjolkan diri. Kalau mau
berjuang jadilah seperti besi beton dia tidak kelihatan tapi dia
menguatkan, hasilnya semua orang mengakui. Orang ikhlas itu pandai
menyembunyikan kebaikannya sebagaimana menyembunyikan keburukannya.
Imam Ali mengatakan, "Orang yang ikhlas maka sekecil apa pun
kebaikannya, Allah yang membesar-besarkannya. Tapi orang yang riya
dan pamer maka dia akan dihinakan oleh Allah dengan pamernya".
Ketiga, jangan meremehkan orang lain. Kita tidak bisa berbuat apa pun
tanpa orang lain. Persatuan kita hanya akan teguh kalau budaya
menghina itu sudah hilang pada diri kita. Daripada capek karena
menghina orang lain lebih baik banyak berbuat memperbaiki orang lain,
itu lebih menyelesaikan masalah. Karena kalau banyak omong maka
omongan itu akan kembali kepada diri kita sendiri. Mulai sekarang
berhentilah meremehkan orang lain. Karena pendek bikinan Allah, sipit
bikinan Allah, makin tidak capek kita menghina makin gampang kita
bersilaturahmi.
Keempat, mulai menuntut diri sendiri. Yang namanya ukhuwah tidak bisa
didapat dengan menuntut orang lain. Persatuan itu syaratnya menuntut
diri. Segala sesuatu itu ibda’ binafsih, dimulai dari diri kita.
Kalau kita hanya sibuk menuntut, maka itulah yang membuat kita tidak
bisa berbuat banyak. Tuntutlah diri. Orang yang terlalu sibuk
menuntut orang lain berbuat sesuatu, maka dialah yang binasa karena
tuntutannya sendiri. Dalam situasi seperti sekarang, kita harus
berbuat, berbuat dan berbuat karena itu yang akan kita dapatkan.
Wallahu a’lam.
Sumber : http://republika.co.id