Meredam Rasa Tersinggung
Penulis : KH Abdullah Gymnastiar
Salah satu hal yang sering membuat energi kita terkuras adalah
timbulnya rasa ketersinggungan diri. Mulculnya perasaan ini sering
disebabkan oleh ketidaktahanan kita terhadap sikap orang lain. Ketika
tersinggung, minimal kita akan sibuk membela diri dan selanjutnya
akan memikirkan kejelekan orang lain. Hal yang paling membahayakan
dari ketersinggungan adalah habisnya amal kita. Efek yang biasa
ditimbulkan oleh rasa tersinggung adalah kemarahan. Jika kita marah,
kata-kata jadi tidak terkendali, stress meningkat, dan lainnya.
Karena itu, kegigihan kita untuk tidak tersinggung menjadi suatu
keharusan.
Apa yang menyebabkan orang tersinggung? Ketersinggungan seseorang
timbul karena menilai dirinya lebih dari kenyataan, merasa pintar,
berjasa, saleh, tampan, dan merasa sukses. Setiap kali kita menilai
diri lebih dari kenyataan bila ada yang menilai kita kurang sedikit
saja akan langsung tersinggung. Peluang tersinggung akan terbuka jika
kita salah dalam menilai diri sendiri. Karena itu, ada sesuatu yang
harus kita perbaiki, yaitu proporsional menilai diri. Teknik pertama
agar kita tidak mudah tersinggung adalah tidak menilai lebih kepada
diri kita. Misalnya, jangan banyak mengingat-ingat bahwa saya telah
berjasa, saya seorang guru, saya seorang pemimpin, saya ini orang
yang sudah berbuat. Semakin banyak kita mengaku-ngaku tentang diri
kita, akan membuat kita makin tersinggung. Ada beberapa cara yang
cukup efektif untuk meredam ketersinggungan. Pertama, belajar
melupakan. Jika kita seorang sarjana maka lupakanlah kesarjanaan
kita. Jika kita seorang direktur lupakanlah jabatan itu. Jika kita
ustadz lupakan keustadzan kita.
Jika kita seorang pimpinan lupakanlah hal itu, dan seterusnya. Anggap
semuanya ini amanah agar kita tidak tamak terhadap penghargaan. Kita
harus melatih diri untuk merasa sekadar hamba Allah yang tidak
memiliki apa-apa kecuali ilmu yang dipercikkan oleh Allah sedikit.
Kita lebih banyak tidak tahu. Kita tidak mempunyai harta sedikit pun
kecuali sepercik titipan Allah. Kita tidak mempunyai jabatan ataupun
kedudukan sedikit pun kecuali sepercik yang Allah amanahkan. Dengan
sikap seperti ini hidup kita akan lebih ringan. Semakin kita ingin
dihargai, dipuji, dan dihormati, akan kian sering kita sakit hati.
Kedua, kita harus melihat bahwa apa pun yang dilakukan orang kepada
kita akan bermanfaat jika kita dapat menyikapinya dengan tepat. Kita
tidak akan pernah rugi dengan perilaku orang kepada kita, jika bisa
menyikapinya dengan tepat.
Kita akan merugi apabila salah menyikapi kejadian, dan sebenarnya
kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai dengan keinginan
kita. Yang bisa kita lakukan adalah memaksa diri sendiri menyikapi
orang lain dengan sikap terbaik kita. Apa pun perkataan orang lain
kepada kita, tentu itu terjadi dengan izin Allah. Anggap saja ini
episode atau ujian yang harus kita alami untuk menguji keimanan
kita. ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu)
Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Innaa
lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat
keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah
orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al Baqarah: 155-157).
Ketiga, kita harus berempati.
Yaitu, mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita. Perhatikan kisah
seseorang yang tengah menuntun gajah dari depan dan seorang lagi
mengikutinya di belakang Gajah tersebut. Yang di depan berkata, "Oh
indah nian pemandangan sepanjang hari". Kontan ia dilempar dari
belakang karena dianggap menyindir. Sebab, sepanjang perjalanan,
orang yang di belakang hanya melihat pantat gajah. Karena itu, kita
harus belajar berempati. Jika tidak ingin mudah tersinggung, cari
seribu satu alasan untuk bisa memaklumi orang lain. Namun yang harus
diingat, berbagai alasan yang kita buat semata-mata untuk memaklumi,
bukan untuk membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat mengendalikan
diri. Keempat, jadikan penghinaan orang lain kepada kita sebagai
ladang peningkatan kwalitas diri dan kesempatan untuk mengamalkan
sifat mulia. Yaitu, memaafkan orang yang menyakiti dan membalasnya
dengan kebaikan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber : http://republika.co.id