Hadist Dhaif Seputar Ramadhan

dikutip dari
Kitab

Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan

Oleh
Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid
Terbitan: Pustaka Al-Haura
Penerjemah: Abdurrahman Mubarak Ata

Diambil dari: www.almanhaj.or.id

Kami menilai perlunya
dibawakan pasal ini pada kitab kami, karena adanya sesuatu yang teramat penting
yang tidak diragukan lagi sebagai peringatan bagi manusia, dan sebagai
penegasan terhadap kebenaran, maka kami katakan :

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan sunnah Nabi secara adil, (untuk)
memusnahkan penyimpangan orang-orang sesat dari sunnah, dan mematahkan ta’wilan
para pendusta dari sunnah dan menyingkap kepalsuan para pemalsu sunnah.

Sejak bertahun-tahun sunnah telah tercampur dengan hadits-hadits yang dhaif,
dusta, diada-adakan atau lainnya. Hal
ini telah diterangkan oleh para imam terdahulu dan ulama salaf dengan
penjelasan dan keterangan yang sempurna.

Orang yang melihat dunia para penulis dan para pemberi nasehat akan melihat
bahwa mereka -kecuali yang diberi rahmat oleh Allah- tidak memperdulikan
masalah yang mulia ini walau sedikit perhatianpun walaupun banyak sumber ilmu
yang memuat keterangan shahih dan menyingkap yang bathil.

Maksud kami bukan membahas dengan detail masalah ini, serta pengaruh yang akan
terjadi pada ilmu dan manusia, tapi akan kita cukupkan sebagian contoh yang
baru masuk dan masyhur di kalangan manusia dengan sangat masyhurnya, hingga
tidaklah engkau membaca makalah atau mendengar nasehat kecuali hadits-hadits
ini -sangat disesalkan- menduduki kedudukan tinggi. (Ini semua) sebagai
pengamalan hadits : "Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat …" [Riwayat
Bukhari 6/361], dan sabda beliau : "Agama itu nasehat" [Riwayat
Muslim no. 55]

Maka kami katakan wabillahi taufik :

Sesungguhnya hadits-hadits yang tersebar di masyarakat banyak sekali, hingga
mereka hampir tidak pernah menyebutkan hadits shahih -walau banyak-yang bisa
menghentikan mereka dari menyebut hadits dhaif.

Semoga Allah merahmati Al-Imam Abdullah bin Mubarak yang mengatakan :
"(Menyebutkan) hadits shahih itu menyibukkan (diri) dari yang
dhaifnya".

Jadikanlah Imam ini sebagai suri tauladan kita, jadikanlah ilmu shahih yang telah
tersaring sebagai jalan (hidup kita).

Dan (yang termasuk) dari hadits-hadits yang tersebar digunakan (sebagai dalil)
di kalangan manusia di bulan Ramadhan, diantaranya:

Pertama.

"Artinya : Kalaulah seandainya kaum muslimin tahu apa yang ada di dalam
Ramadhan, niscaya umatku akan berangan-angan agar satu tahun Ramadhan
seluruhnya. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada
tahun berikutnya …." Hingga akhir hadits ini.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no.886) dan Ibnul Jauzi di dalam
Kitabul Maudhuat (2/188-189) dan Abu Ya’la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada
Al-Muthalibul ‘Aaliyah (Bab/A-B/tulisan tangan) dari jalan Jabir bin Burdah
dari Abu Mas’ud al-Ghifari.

Hadits ini maudhu’ (palsu), penyakitnya pada Jabir bin Ayyub, biografinya ada
pada Ibnu Hajar di dalam Lisanul Mizan (2/101) dan beliau berkata :
"Mashur dengan kelemahannya". Juga dinukilkan perkataan Abu Nua’im,
" Dia suka memalsukan hadits", dan dari Bukhari, berkata,
"Mungkarul hadits" dan dari An-Nasa’i, "Matruk"
(ditinggalkan) haditsnya".

Ibnul Jauzi menghukumi hadits ini sebagai hadits palsu, dan Ibnu Khuzaimah
berkata serta meriwayatkannya, "Jika haditsnya shahih, karena dalam hatiku
ada keraguan pada Jarir bin Ayyub Al-Bajali".

Kedua.

"Artinya : Wahai manusia, sungguh bulan yang agung telah datang (menaungi)
kalian, bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu
bulan, Allah menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan
menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. Barangsiapa yang mendekatkan
diri pada bulan tersebut dengan (mengharapkan) suatu kebaikan, maka sama
(nilainya) dengan menunaikan perkara yang wajib pada bulan yang lain …. Inilah
bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah
merupakan pembebasan dari api neraka …." sampai selesai.

Hadits ini juga panjang, kami cukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang
paling masyhur. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887) dan
Al-Muhamili di dalam Amalinya (293) dan Al-Asbahani dalam At-Targhib (q/178,
b/tulisan tangan) dari jalan Ali bin Zaid Jad’an dari Sa’id bin Al-Musayyib
dari Salman.

Hadits ini sanadnya Dhaif, karena lemahnya Ali bin Zaid, berkata Ibnu Sa’ad, Di
dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya, berkata Imam Ahmad bin
Hanbal: Tidak kuat, berkata Ibnu Ma’in: Dha’if, berkata Ibnu Abi Khaitsamah:
Lemah di segala penjuru, dan berkata Ibnu Khuzaimah: Jangan berhujjah dengan
hadits ini, karena jelek hafalannya. Demikian di dalam Tahdzibut Tahdzib
[7/322-323].

Dan Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkan hadits ini: jika benar
kabarnya. Berkata Ibnu Hajar di dalam Al-Athraf: Sumbernya pada Ali bin Zaid
bin Jad’an, dan dia lemah, sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Imam As-Suyuthi
di dalam Jami’ul Jawami (no. 23714 -tertib urutannya).

Dan Ibnu Abi Hatim menukilkan dari bapaknya di dalam Illalul Hadits (I/249):
hadits yang Mungkar

Ketiga.

"Artinya : Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat"

Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam
Al-Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Sa’id, dari Ad-Dhahak dari Ibu Abbas. Nashsyal
(termasuk) yang ditinggal (karena) dia pendusta dan Ad-Dhahhak tidak mendengar
dari Ibnu Abbas.

Diriwayatkan oleh At-Thabrani di dalam Al-Ausath (1/q 69/Al-Majma’ul Bahrain)
dan Abu Nu’aim di dalam At-Thibun Nabawiy dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin
Abi Dawud, dari Zuhair bin Muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih dari Abu
Hurairah.

Dan sanad hadits ini lemah. Berkata Abu Bakar Al-Atsram, "Aku mendengar
Imam Ahmad -dan beliau menyebutkan riwayat orang-orang Syam dari Zuhair bin
Muhammad- berkata: "Mereka meriwayatkan darinya (Zuhair,-pent) beberapa
hadits mereka (orang-orang Syam, -pent) yang dhoif itu". Ibnu Abi Hatim
berkata : "Hafalannya jelek dan hadits dia dari Syam lebih mungkar
daripada haditsnya (yang berasal) dari Irak, karena jeleknya hafalan dia".
Al-Ajalaiy berkata : "Hadits ini tidak membuatku kagum", demikianlah
yang terdapat pada Tahdzibul Kamal (9/417).

Aku katakan : Dan Muhammad bin Sulaiman Syaami, biografinya (disebutkan) pada
Tarikh Damasqus (15/q 386-tulisan tangan) maka riwayatnya dari Zuhair
sebagaimana di naskhan oleh para Imam adalah mungkar, dan hadits ini darinya.

Keempat

"Artinya : Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan
tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak
akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun penuh"
Hadits ini diriwayatkan Bukhari dengan mu’allaq dalam shahih-nya (4/160-Fathul
Bari) tanpa sanad.

Ibnu Khuzaimah telah memalukan hadits tersebut di dalam Shahih-nya (19870),
At-Tirmidzi (723), Abu Dawud (2397), Ibnu Majah (1672) dan Nasa’i di dalam
Al-Kubra sebagaimana pada Tuhfatul Asyraaf (10/373), Baihaqi (4/228) dan Ibnu
Hajjar dalam Taghliqut Ta’liq (3/170) dari jalan Abil Muthawwas dari bapaknya
dari Abu Hurairah.

Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (4/161) : "Dalam hadits ini ada
perselisihan tentang Hubaib bin Abi Tsabit dengan perselisihan yang banyak,
hingga kesimpulannya ada tiga penyakit : idhthirah (goncang), tidak diketahui
keadaan Abil Muthawwas dan diragukan pendengaran bapak beliau dari Abu
Hurairah".

Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkannya : Jika khabarnya shahih, karena
aku tidak mengenal Abil Muthawwas dan tidak pula bapaknya, hingga hadits ini
dhaif juga.

Wa ba’du : Inilah empat hadits yang didhaifkan oleh para ulama dan dilemahkan
oleh para Imam, namun walaupun demikian kita (sering) mendengar dan membacanya
pada hari-hari di bulan Ramadhan yang diberkahi khususnya dan selain pada bulan
itu pada umumnya.

Tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian hadits-hadits ini memiliki makna-makna
yang benar, yang sesuai dengan syari’at kita yang lurus baik dari Al-Qur’an
maupun Sunnah, akan tetapi (hadits-hadits ini) sendiri tidak boleh kita
sandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan terlebih lagi
-segala puji hanya bagi Allah- umat ini telah Allah khususkan dengan sanad
dibandingkan dengan umat-umat yang lain. Dengan sanad dapat diketahui mana
hadits yang dapat diterima dan mana yang harus ditolak, membedakan yang shahih
dari yang jelek. Ilmu sanad adalah ilmu yang paling rumit, telah benar dan baik
orang yang menamainya : "Ucapan yang dinukil dan neraca pembenaran
khabar".

waLLahu ‘alam

Leave a Reply